padapenetapan kadar natrium benzoat dapat dilakukan menggunakan spektrofotometri uv-vis. hasil pada penelitian ini ditemukan 2 sampel yang positif mengandung pengawet natrium benzoat dengan kadar 157,767 mg/kg untuk sampel a dan 182,8 mg/kg untuk sampel b. namun, kadar yang didapatkan pada sampel a dan b tidak melebihi batas kadar yang terdapat
Padasaat bernyanyi, otot diafragma dapat memberi dorongan yang kuat kepada paru-paru serta dapat mengatur tenaga aliran udara melalui batang tenggorok menggetarkan selaput suara dan keluar melalui mulut. Pernapasan yang baik digunakan untuk bernyanyi ialah pernapasan diafragma. Benzoat biasa digunakan untuk mengawetkan makanan apa saja coba sebutkan? Benzoat sering digunakan untuk mengawetkan
Natriumbenzoat merupakan garam natrium dari asam benzoat yang sering digunakan pada bahan makanan. Natrium benzoat memiliki karakteristik stabil, tanpa bau, berbentuk kristal putih, larut air dan etanol (Kabara dan Eklund, 1991). Di dalam bahan pangan, natrium benzoat akan terurai menjadi bentuk aktifnya yaitu asam benzoat (DeMan, 1997).
BeliTerbaru Saos Extra Hot Delmonte - Sambal Delmonte Extra Hot 1 Kg. Harga Murah di Lapak Ibay Aksesoris. Pengiriman cepat Pembayaran 100% aman. Belanja Sekarang Juga Hanya di Bukalapak.
Setelahkecap air kelapa sudah disaring dan dingin, maka Anda bisa menambahkan natrium benzoat lalu diaduk sampai merata. Asam benzoat ini memiliki fungsi untuk mengawetkan kecap air kelapa. Dengan begitu kecap yang dihasilkan bisa lebih tahan lama, bebas jamur, dan resisten terhadap komtaminasi dari mikroba. 4. Pengemasan Kecap
lj84SN3. Abstract Telah dilakukan penelitian mengenai penatapan kadar pengawet natrium benzoat pada sambal kemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kandungan natrium benzoat pada sambal kemasan dan kadar natrium benzoat yang terdapat dalam sambal kemasan. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 6 sampel sambal kemasan pada beberapa merk yang beredar di pasar swalayan daerah Denpasar Barat. Analisa kualitatif pada penelitian ini dilakukan dengan cara pemisahan menggunakan dietil eter dan membentuk endapan ferri benzoat. Pada penetapan kadar natrium benzoat dapat dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil pada penelitian ini ditemukan 2 sampel yang positif mengandung pengawet natrium benzoat dengan kadar 157,767 mg/kg untuk sampel A dan 182,8 mg/kg untuk sampel B. Namun, kadar yang didapatkan pada sampel A dan B tidak melebihi batas kadar yang terdapat pada Peraturan Menteri Kesehatan permenkes No 722/Menkes/PER/IX/88 yaitu 1000 mg/kg.
Natrium benzoat – seperti cap Koepoe Koepoe – ternyata memiliki banyak kegunaan di samping sebagai bahan pengawet makanan dan benzoat – dengan rumus kimia NaC6H5COO – adalah bahan pengawet makanan yang biasa ditemukan pada produk-produk seperti minuman bersoda, makanan dalam kaleng, lemon jus dalam botol, jelly dan benzoat sendiri diproduksi dari asam benzoat dan sodium hidroksida. Bentuknya powder berwarna putih dan tidak dengan saat ini penggunaan natrium benzoat masih diperbolehkan. Di Amerika Serikat, ia dikelompokkan ke dalam Generally Recognized As Safe GRAS oleh apa sih kegunaan natrium benzoat selain sebagai bahan pengawet makanan?Ini dia Natrium Benzoat Yang Perlu Anda TahuNatrium benzoat digunakan sebagai bahan pengawet juga pada beberapa macam obat seperti sirup obat benzoat digunakan pula pada proses pembuatan tablet, agar tablet menjadi transparan, halus dan ketika diminum ia menjadi lebih mudah kasus kandungan amonia yang tinggi dalam darah, bahan kimia ini dianjurkan pula untuk diminum sebagai obat. Karena kandungan amonia yang tinggi dalam darah sangat industri pembuatan kosmetik dan produk perawatan seperti shampoo, pasta gigi dan mouthwash, bahan kimia yang satu ini juga digunakan sebagai bahan benzoat berfungsi juga sebagai bahan kimia pencegah korosi. Ia biasanya ditemukan pada cairan pendingin mesin kendaraan atau dunia fotografi, ia juga digunakan sebagai stabilizer pada pemrosesan beberapa jenis plastik, natrium benzoat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki kekuatan bagi anda yang gemar akan kembang api, ternyata bahan kimia yang satu ini digunakan pula proses pembuatannya, yaitu untuk menciptakan suara siulan pada saat kembang api proses pembuatan bir, natrium benzoat digunakan sebagai bahan untuk mencegah terjadi proses fermentasi pada 1. 2. terkait
Ilustrasi produk sambal kemasan sumber pikiran-rakyat Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sambal menjadi salah satu bahan pelengkap makanan yang harus ada di meja makan. Bisa dibilang, makan tanpa sambal rasanya kurang lezat. Sayangnya, tidak semua jenis sambal buatan rumah bisa bertahan lama. Lalu, bagaimana cara mengawetkan sambal? Menambahkan Natrium Benzoat Natrium benzoat sumber wikipedia Salah satu cara yang mudah dan aman untuk mengawetkan sambal homemade adalah dengan menambahkan natrium benzoat. Natrium benzoat merupakan salah satu bahan pengawet yang dinilai aman dan sudah sering dipakai untuk mengawetkan makanan serta minuman. Harga bahan kimia ini juga terbilang tidak mahal, yakni sekitar Rp5 ribuan hingga Rp7 ribuan untuk kemasan 33 gr. Meskipun tergolong aman dan bisa dikonsumsi, natrium benzoat sebagai bahan pengawet tidak bisa diberikan dengan dosis sembarangan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Permenkes No. 722/Menkes/PER/IX/88, natrium benzoat boleh ditambahkan pada bahan makanan atau minuman dengan dosis mg/kg.[1] Efek samping penambahan natrium benzoat terlalu banyak pada makanan atau minuman adalah kejang-kejang, hiperaktif, serta penurunan berat badan yang pada akhirnya bisa menyebabkan kematian. Untuk menghindari efek sampingnya, Anda bisa menambahkan natrium benzoat pada produk sambal rumahan Anda sesuai dosis yang dianjurkan. Masak Sambal dengan Tambahan Minyak Nabati Ilustrasi memanaskan sambal sumber Cara mudah mengawetkan sambal tanpa risiko penyakit atau kualitas yang berkurang, yaitu dengan memasak sambal menggunakan lebih banyak minyak nabati. Sebelumnya, pastikan bahan-bahan yang Anda pakai untuk membuat sambal adalah bahan yang segar dan sudah dihaluskan. Siapkan wajan dan tuangkan minyak nabati sebanyak 13 dengan sambal yang akan dimasak. Setelah itu, nyalakan kompor dengan api kecil dan biarkan minyak panas. Tuangkan sambal yang sudah jadi ke dalam wajan dan tumis hingga 30 menit atau biarkan sambal menjadi lebih kental. Setelah itu, tambahkan 3 sendok makan minyak kelapa atau minyak zaitun dan aduk sambal di wajan selama 10 menit. Sambal yang sudah dipanaskan harus dibiarkan dingin sebelum disimpan. Cara ini tidak hanya bisa diterapkan untuk mengawetkan sambal. Anda juga bisa memakai tips tersebut untuk mengawetkan bahan makanan lain, seperti saus tomat. Disimpan dalam Wadah Steril Kedap Udara Tutup aluminium foil twitter risingpack Anda juga bisa mengawetkan sambal rumahan dengan memasukkannya ke wadah steril yang kedap udara. Umumnya, orang suka memakai botol kaca dengan tutup logam. Sebelumnya, pastikan sambal sudah dimasak dulu dalam waktu lebih dari 20 menit. Setelah itu, biarkan sambal agak dingin dan siapkan toples kaca dengan tutup stainless steel. Rebus toples kaca bersama tutupnya selama 3 menit dan angin-anginkan toples agar kering dan dingin. Masukkan sambal ke dalam toples kaca dan tutup rapat. Letakkan toples secara terbalik pada meja yang datar agar toples mudah dibuka. Agar lebih awet lagi, Anda bisa melapisi bagian mulut botol dengan plastik wrap dan plastik. Cara ini terbilang efektif untuk membuat sambal lebih tahan lama, karena tidak ada bakteri atau kuman yang masuk ke dalam sambal dengan mudah. Lain halnya jika Anda meletakkan sambal pada wadah yang terbuka atau kedap udara. Sambal tersebut akan mudah dihinggapi bakteri yang menyebabkan pembusukan lebih cepat. Dimasukkan Freezer Freezer kulkas sumber Di zaman yang serba canggih seperti ini, mayoritas orang Indonesia sudah memiliki lemari pendingin yang dilengkapi dengan freezer. Lemari pembeku tersebut bisa Anda manfaatkan untuk mengawetkan sambal. Dengan suhu di bawah 0 derajat Celcius, bahan makanan akan membeku dan secara alami akan tahan lebih lama. Mengawetkan makanan dengan cara membekukannya sudah dikenal orang sejak dahulu Bedanya, pada zaman dulu, orang memakai es balok dan sekarang menggunakan mesin. Sambal yang beku dengan suhu di bawah 0 derajat Celcius membuat bakteri yang hinggap tidak mampu bertahan hidup. Sehingga, tidak ada aktivitas bakteri yang menyebabkan makanan menjadi busuk. Untuk mengonsumsi sambal beku juga tidak sulit, karena Anda hanya perlu mengeluarkannya dari freezer dan menghangatkannya di wajan atau panci. Sambal beku juga bisa Anda jadikan sebagai bumbu tambahan untuk memasak yang praktis dan mudah. Anda hanya perlu mencelupkan satu balok sambal beku berukuran 1 x 2 cm ke dalam masakan untuk mengubah cita rasanya menjadi pedas. Itulah sejumlah cara mengawetkan sambal dengan praktis tanpa ribet. Selain itu, Anda juga bisa mengawetkan sambal buatan sendiri dengan menambahkan beberapa macam rempah, seperti jahe, lengkuas, serai, dan bawang. Namun, cara tersebut juga akan membuat cita rasa sambal berubah. Sehingga, Anda perlu mempertimbangkannya kembali jika tidak ingin rasa sambal Anda berubah. [1] Dewi, Kade Ayu Yasinta, dkk. 2019. Penetapan Kadar Pengawet Natrium Benzoat pada Sambal Kemasan Secara Spektrofotometri UV-VIS. Jurnal Ilmiah Medicamento, Vol. 51 39-44.
Natrium benzoat adalah pengawet makanan yang diizinkan oleh Pemerintah Indonesia, namun tidak boleh melebihi konsentrasi batas penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan natrium benzoat dan menentukan kadar natrium benzoat dalam saus sambal yang dijual di Pasar Panorama Bengkulu. Identifikasi natrium benzoat dilakukan dengan menggunkan FeCl3 yang ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna jingga kecoklatan dan penentuan kadar natrium benzoat dilakukan dengan metode Spektrofotometri Ultraviolet pada panjang gelombang 272 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima sampel saus sambal A, B, C, D dan E menggunakan pengawet natrium benzoat secara berurutan sebesar 76,1 mg/kg; 45,4 mg/kg; 42,4 mg/kg; 37 mg/kg dan 26,1 mg/kg. Penggunaan natrium benzoat pada sampel saus sambal tidak melebihi ambang batas yang telah ditetapkan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 yaitu 1000 mg/kg. To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the authors. Rizky Kusuma WardaniCucu RahayuBerbagai upaya yang dilakukan penjual untuk meningkatkan penjualan dan menekan kerugian. Salah satunya adalah dengan meningkatkan penampilan dan daya tahan produk makanan. Namun, masih banyak ditemukan produk makanan menggunakan bahan berbahaya yang dilarang seperti formalin, boraks dan pewarna rhodamin B. Disisi lain, penggunaan bahan pengawet natrium benzoat merupakan salah satu bahan pengawet yang diperbolehkan, namun masih ditemukan penggunaannya yang melebihi batas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keberadaan pewarna rhodamin B dan pengawet natrium benzoat pada saus tomat pentol di kota Palangka Raya. Desain penelitian adalah observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional study. Sampel yang digunakan adalah saus tomat pentol yang dijajakan oleh pedagang keliling di kota Palangka Raya. Analisis keberadaan rhodamin B dan natrium benzoat dalam saus tomat dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan test-kit dan secara kuantitatif dengan menggunakan metode HPLC. Hasil uji menunjukkan bahwa tidak ada sampel yang mengandung pewarna rhodamin B dan 33,33% sampel melebihi batas penggunaan natrium benzoat yang dianjurkan oleh Bahan Pengawet Benzoat Pada Saos Tomat yang Beredardi Wilayah Kota DenpasarI M SiakaSiaka, 2009. Analisis Bahan Pengawet Benzoat Pada Saos Tomat yang Beredardi Wilayah Kota Denpasar. 3 2 dan Pengawetan MakananA SilabanSilaban, A. 2010. Pengolahan dan Pengawetan Diakses 06 Januari dan Penetapan KadarAsam BenzoatPada KecapAsinyang beredar diKota ManadoA YudistiraYudistira, A., dan Penetapan KadarAsam BenzoatPada KecapAsinyang beredar diKota Ilmiah Farmasi. 21 12-17
Benzoate is a preservative of food allowed by the Government of Indonesia, but should not exceed the concentration limits its in use. The aims of this research is to analyze and to determine the benzoate compounds content in chili sauce from fried chicken fast food restaurants in Manado. The identification of benzoate compounds was done using FeCl 3 which was characterized with the form of red brown sediment. Analysis of benzoate content using UV-Vis spectrophotometry method with wavelength of 274 nm. The results showed that four samples of chili sauce A, B, C and D were using preservative sodium benzoate in amount of 0,411, 0,454, 0,336 and 0,344 g/kg respectively. The amount of benzoate preservative in samples of chili sauce does not exceed the threshold set out by The Head of National Drug and Food Control Agency of the Republic of Indonesia in 2013 which is 1 g/kg. Figures - uploaded by Sri SudewiAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Sri SudewiContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 48 ANALISIS SENYAWA BENZOAT PADA SAUS SAMBAL DI RUMAH MAKAN AYAM GORENG CEPAT SAJI DI MANADO Ika Purwaningsih1, Sri Sudewi1, Jemmy Abidjulu1 1Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Benzoate is a preservative of food allowed by the Government of Indonesia, but should not exceed the concentration limits its in use. The aims of this research is to analyze and to determine the benzoate compounds content in chili sauce from fried chicken fast food restaurants in Manado. The identification of benzoate compounds was done using FeCl3 which was characterized with the form of red brown sediment. Analysis of benzoate content using UV-Vis spectrophotometry method with wavelength of 274 nm. The results showed that four samples of chili sauce A, B, C and D were using preservative sodium benzoate in amount of 0,411, 0,454, 0,336 and 0,344 g/kg respectively. The amount of benzoate preservative in samples of chili sauce does not exceed the threshold set out by The Head of National Drug and Food Control Agency of the Republic of Indonesia in 2013 which is 1 g/kg. Keywords Benzoate, chili sauce, UV-Vis spectrophotometry, Manado. ABSTRAK Benzoat adalah pengawet makanan yang diizinkan oleh Pemerintah Indonesia, namun tidak boleh melebihi konsentrasi batas penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan senyawa benzoat dan menentukan kadar senyawa benzoat dalam saus sambal di rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado. Identifikasi senyawa benzoat dilakukan dengan menggunakan FeCl3 yang ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna merah kecoklatan dan penentuan kadar senyawa benzoat dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 274 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat sampel saus sambal A, B, C dan D menggunakan pengawet benzoat secara berurutan sebesar 0,411, 0,454, 0,336, dan 0,344 g/kg. Penggunaan pengawet benzoat pada sampel saus sambal tidak melebihi ambang batas yang telah ditetapkan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 yaitu 1 g/kg. Kata kunci Benzoat, saus sambal, spektrofotometri UV-Vis, Manado. PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 49 PENDAHULUAN Makanan yang tidak habis dikonsumsi jika dibiarkan, teksturnya akan berubah dan dapat bersifat racun karena pekerjaan mikroba-mikroba yang ada dalam bahan makanan ataupun karena dekomposisi komponen-komponen dalam bahan makanan tersebut yang mungkin menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik. Untuk mencegah perkembangan mikroba-mikroba zat dalam bahan pangan, perlu ditambahkan bahan-bahan tertentu lain sebagai bahan pengawet ke dalam bahan pangan tersebut Tranggono et al dalam Rorong 1996. Bahan tambahan pangan adalah bahan yang dapat mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja ditambahkan ke dalam pangan untuk tujuan teknologis pada pembuatan, pengolahan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan dan/atau pengangkutan pangan untuk menghasilkan atau diharapkan menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat pangan tersebut, baik secara langsung atau tidak langsung. Salah satu bahan tambahan pangan yang sering digunakan adalah pengawet Anonim, 2012. Pengawet yang banyak dijual di pasaran dan digunakan untuk mengawetkan berbagai bahan pangan adalah benzoat, yang umumnya terdapat dalam bentuk natrium benzoat atau kalium benzoat yang bersifat lebih mudah larut. Benzoat sering digunakan untuk mengawetkan berbagai pangan dan minuman, seperti sari buah, minuman ringan, saus tomat, saus sambal, selai, jeli, manisan, kecap dan lain-lain Cahyadi, 2009. Saus sambal adalah saus yang diperoleh dari bahan utama cabai Capsicum sp yang matang dan baik, dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain dan digunakan sebagai penyedap makanan SNI, 1992. Tingkat keawetan saus sambal sangat ditentukan oleh proses pengolahan yang diterapkan dan jumlah bahan pengawet yang digunakan. Bahan pengawet yang sering digunakan dalam saus sambal adalah benzoat, dengan jumlah maksimum benzoat yang boleh digunakan adalah 1g/kg bahan sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 Anonim, 2013. Pembatasan penggunaan benzoat bertujuan agar tidak terjadi keracunan. Mengkonsumsi makanan yang mengandung natrium benzoat tidak berakibat buruk secara langsung, tetapi akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh apalagi jika jumlah yang dikonsumsi melebihi batas penggunaannya Triastuti et al., 2013. Konsumsi benzoat di atas batas maksimum dapat menyebabkan kejang-kejang, hiperaktif, serta penurunan berat badan yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian Nurcahyani dalam Sevita, 2013. Saus sambal yang ada di rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado tidak mencantumkan komposisi bahan, terutama kadar pengawet benzoat yang digunakan. Saus sambal tersebut dimasukkan ke dalam wadah dan konsumen mengambil sendiri saus sambal tersebut. Hal tersebut menyebabkan kadar senyawa benzoat tidak diketahui jika telah melebihi ambang batas yang ditentukan oleh Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013. METODOLOGI PENELITIAN PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 50 Alat Alat-alat yang digunakan yaitu spektrofotometer UV-Vis, timbangan analitik, corong pisah, labu takar, erlenmeyer dan alat-alat gelas. Bahan Bahan-bahan yang digunakan berkualitas proanalisis yaitu saus sambal, natrium benzoat, kloroform, natrium hidroksida, besi III klorida, asam klorida, natrium klorida, ammonium hidroksida, natrium sulfat, akuades, kertas lakmus dan kertas saring. Prosedur Penelitian Preparasi Sampel Sampel saus sambal diambil dari 4 rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado yaitu rumah makan A, B, C dan D. Selanjutnya sampel dianalisis di Laboratorium Analisis Farmasi Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sam Ratulangi Manado. Perlakuan Sampel Analisis Kualitatif Metode analisis kualitatif menurut AOAC 1990 yang dimodifikasi oleh Rorong 1996. Sebanyak 20 g sampel dimasukkan ke dalam beaker gelas sampai volume 100 mL dengan larutan NaCl jenuh. Selanjutnya sampel ditambahkan dengan larutan NaOH 10% sampai larutan bersifat alkalis, distirer selama 5 menit, dibiarkan semalam dan disaring. Filtrat ditambahkan dengan 2 mL larutan HCl pekat sampai larutan bersifat asam. Larutan asam diekstraksi sebanyak 3 kali dengan kloroform masing-masing 10 mL, selanjutnya ekstrak kloroform dipanaskan pada suhu 80oC di atas penangas air. Residu yang diperoleh dilarutkan dalam akuades dan dipanaskan dalam penangas air selama 10 menit pada suhu antara 80-85oC. Selanjutnya larutan yang diperoleh didinginkan sejenak dan ditambahkan beberapa tetes larutan FeCl3 5%. Apabila terbentuk endapan berwarna salmon atau cincin merah kecoklatan hal itu menunjukkan keberadaan benzoat dalam sampel. Kurva Standar dan Larutan Standar Pembuatan larutan standar didahului dengan pembuatan larutan induk 100 mg/L yang dibuat dengan melarutkan 25 mg natrium benzoat ke dalam kloroform pada labu takar 250 mL. Larutan deret standar dibuat dengan mengambil 1; 2; 3; 4; dan 5 mL dari larutan induk natrium benzoat 100 mg/L ke dalam labu takar 10 mL kemudian masing-masing diencerkan dengan kloroform sampai tanda batas. Konsentrasi larutan standar yang diperoleh berturut-turut ialah 10; 20; 30; 40 ; dan 50 mg/L. Deteksi absorbansi larutan standar pada panjang gelombang 274 nm dengan menggunakan instrumen spektrofotometer UV-Vis. Selanjutnya dibuat kurva standar yang menghubungkan absorbansi dengan konsentrasi dari masing-masing larutan standar. Validasi Metode Analisis a. Penentuan Presisi Dari larutan standar natrium benzoat 100 mg/L dibuat larutan standar dengan konsentrasi 40 mg/L dengan cara seperti pada pembuatan seri konsentrasi pada kurva standar. Larutan standar natrium benzoat dengan konsentrasi 40 mg/L tersebut dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 274 nm. Uji ketelitian ini PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 51 dilakukan sebanyak lima kali pengulangan. Akurasi Penentuan akurasi dilakukan dengan metode penambahan standar. Pada larutan natrium benzoat yang telah diketahui konsentrasinya ditambahkan larutan standar natrium benzoat 5 mg/L. Kemudian larutan tersebut dibaca absorbansinya menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dengan 5 kali pengulangan. Hasil absorbansi digunakan untuk menghitung persen perolehan kembali. c. Penentuan Batas Deteksi LOD dan Batas Kuantitasi LOQ LOD dan LOQ dihitung melalui persamaan garis linier dari kurva kalibrasi, dengan rumus LOD = LOQ = Keterangan SB = Simpangan baku respon analitik dari blangko Slope = Arah garis linier kepekaan arah dari kurva antara respon terhadap konsentrasi = slope b pada persamaan garis y = bx + a. Analisis Kuantitatif Metode analisis kuantitatif menurut AOAC 1990 yang dimodifikasi oleh Rorong 1996. Sebanyak 10 gram sampel dipindahkan ke dalam erlenmeyer, kemudian sampel dilarutkan dalam 100 mL larutan NaCl jenuh. Tambahkan beberapa tetes HCl sampai larutan bersifat asam kertas lakmus biru menjadi merah kemudian dicampur dengan baik. Larutan diekstraksi dengan kloroform sebanyak 3 kali masing-masing 30, 20, 10 mL. Hasil ekstraksi dicuci dengan larutan HCl 0,1 % sebanyak 3 kali, masing-masing 25, 20 dan 15 mL. Ekstrak asam diekstraksi lagi dengan larutan NH4OH 0,1 % sebanyak 4 kali masing-masing 25, 20, 15, 10 mL. Hasil ekstraksi diekstraksi dengan kloroform sebanyak 3 kali masing-masing 30, 20, dan 10 mL. Hasil ekstraksi dicuci dengan Na2SO4 dan diencerkan dengan kloroform sampai tanda batas dalam labu takar 100 mL. Larutan hasil ekstraksi dibaca absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 274 nm, kemudian konsentrasi benzoat dalam sampel ditentukan berdasarkan kurva standar. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis kualitatif yang dilakukan terhadap sampel bertujuan untuk menunjukkan adanya senyawa benzoat dalam sampel. Hasil analisis secara kualitatif terhadap adanya benzoat dalam beberapa sampel saus sambal dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil analisis kualitatif terhadap adanya senyawa benzoat dalam beberapa sampel saus sambal. Keterangan + Endapan berwarna merah kecoklatan menandakan keberadaan benzoat dalam sampel. PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 52 Dilihat dari tabel di atas, semua sampel menunjukkan positif mengandung senyawa benzoat. Hasil analisis kualitatif, ditandai dengan terbentuknya endapan berwarna salmon atau terdapat cincin berwarna merah kecokelatan Rorong, 2013. Pada sampel saus sambal sebanyak 20 g ditambahkan larutan NaCl jenuh yang bertujuan untuk memecahkan emulsi saus sambal, karena dengan adanya penambahan elektrolit maka dapat terjadi pemecahan emulsi Sumarauw et al., 2013. Pengadukan dilakukan pada perlakuan selanjutnya berfungsi untuk membuat larutan menjadi homogen. Setelah larutan dibiarkan semalam, partikel-partikel terdispersi yang tidak larut dalam air seperti lemak akan dapat mengendap dalam bentuk garam asam lemak. Penyaringan dilakukan agar partikel-partikel yang tidak larut dalam air dapat dipisahkan dari larutan. Benzoat akan berada dalam larutan air pada filtrat dalam bentuk garam Cahyadi, 2006. Larutan ekstrak kloroform yang ditambahkan dengan reagen FeCl3 5 % menghasilkan endapan salmon atau cincin merah kecoklatan, hal ini dapat terjadi karena adanya reaksi ikatan antara 3 buah ion benzoat dari asam benzoat dengan ion ferri Fe3+ dari ferriklorida yang membentuk senyawa khelat ferribenzoat dengan molekul asam klorida, menurut reaksi C6H5COOH + FeCl3 FeC6H5COO3 + 3HCl Endapan merah kecoklatan Kurva Standar dan Linieritas Dalam penelitian ini kurva standar diperoleh dengan cara membuat seri konsentrasi 10, 20, 30, 40 dan 50 mg/L dari larutan standar natrium benzoat 100 mg/L sehingga diperoleh hasil absorbansi versus konsentrasi pada panjang gelombang 274 nm. Gambar 1. Kurva standar natrium benzoat dalam pelarut kloroform Persamaan kurva kalibrasi merupakan hubungan antara sumbu x dan sumbu y. Sumbu x dinyatakan dengan konsentrasi yang diperoleh sedangkan sumbu y merupakan absorbansi atau serapan yang diperoleh dari hasil pengukuran sehingga persamaan regresi linier dari kurva kalibrasi yang diperoleh adalah y = 0,0095x – 0,0398 dengan koefisien korelasi r = 0,9996. Harga y = - r = 00,10,20,30,40,5020 40 60Absorbansi Konsentrasi mg/L AbsorbansiLinear Absorbansi PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 53 koefisien korelasi r yang mendekati 1 menyatakan hubungan yang linier antara konsentrasi dengan serapan yang dihasilkan, dengan kata lain peningkatan nilai absorbansi analit berbanding lurus dengan peningkatan konsentrasinya yang sesuai dengan kriteria penerimaan koefisien korelasi r yang baik menurut Shargel 1985 adalah r ≥ 0,9970. Validasi Metode Analisis Presisi Presisi diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif koefisien variasi berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap replikasi sampel yang diambil dari campuran yang homogen Harmita, 2004. Metode dapat menghasilkan nilai rata-rata yang sangat dekat dengan nilai sebenarnya dengan simpangan baku SD dan koefisien variasi KV sebagai parameter ukur. Adapun hasil perhitungan simpangan baku SD dari data yang diperoleh dan 5 kali replikasi pada konsentrasi 40 mg/L sebesar 0,0026 dengan nilai koefisien variasi KV sebesar 0,0064%. Menurut Harmita 2004, nilai koefisien variasi < 2% menunjukkan bahwa metode tersebut memberikan presisi yang baik, sehingga ketelitian alat yang diperoleh yaitu 99,99%. Data hasil percobaan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Data hasil uji presisi ketelitian pada larutan standar Akurasi Akurasi dapat ditentukan dengan 2 cara yaitu, metode simulasi spiked - placebo recovery atau dengan metode penambahan baku standart addition method seperti yang digunakan pada penelitian ini. Dalam metode penambahan baku, dilakukan dengan membuat larutan konsentrasi 30 mg/L dengan 5 kali pengulangan kemudian dibaca absorbansinya sebelum dan setelah penambahan konsentrasi larutan standar natrium benzoat 5 mg/L. Setelah perhitungan, maka nilai rata – rata % recovery yang diperoleh sebesar 92,21%. Persen perolehan kembali ini dapat diterima karena memenuhi syarat akurasi yaitu pada rentang rata - rata persen perolehan kembali 80 – 110 % Harmita, 2004.Tabel 3. Data hasil uji akurasi ketepatan pada larutan standar Absorbansi setelah + Konsentrasi setelah + mg/L PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 54 Keterangan Absorbansi awal absorbansi larutan standar 30 mg/L Absorbansi setelah + larutan standar absorbansi larutan standar 30 mg/L + larutan standar 5 mg/L Batas Deteksi LOD dan Batas Kuantifikasi LOQ Uji batas deteksi dan batas kuantifikasi dilakukan untuk mengetahui batas deteksi dan batas kuantifikasi terendah dari larutan natrium benzoat yang masih dapat menghasilkan data dengan akurasi dan presisi yang baik. Setelah mendapatkan kurva kalibrasi yang memenuhi persyaratan analisis, selanjutnya data yang diperoleh dari konsentrasi tiap analit yang memberikan absorbansi berbeda diolah untuk menentukan batas deteksi LOD dan batas kuantifikasi LOQ. Batas deteksi yang diperoleh adalah 2,231 mg/L sedangkan batas kuantifikasi yang diperoleh 7,737 mg/L. Analisis Kuantitatif Penentuan kadar senyawa benzoat dalam sampel dilakukan dengan pengukuran absorbansi larutan sampel. Konsentrasi X senyawa benzoat dalam sampel diperoleh dengan cara mensubsitusikan nilai absorbansi larutan sampel terhadap y pada persamaan y = 0,0095x – 0,0398. Tabel 4. Hasil pengukuran konsentrasi senyawa benzoat ekstrak sampel saus sambal Keterangan X = Konsentrasi senyawa benzoat dalam sampel saus sambal X = Konsentrasi rata-rata senyawa benzoat dalam sampel saus sambal Penentuan konsentrasi yang terdapat dalam sampel saus sambal dapat dilihat dari jumlah konsentrasi rata-rata sampel yang merupakan jumlah konsentrasi senyawa benzoat yang terkandung dalam 10 gram bahan saus sambal yang diperoleh berdasarkan pembacaan absorbansi dari 100 mL hasil ekstrak terakhir dalam rangkaian prosedur analisis kuantitatif. Konsentrasi senyawa benzoat dalam 10 gram bahan dari 100 mL dikonversikan kedalam satuan mg/kg, PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 55 dimana 1 kilogram bahan sama dengan 10 gram bahan dikalikan 100 Cahyadi, 2006. Berdasarkan Tabel 4, konsentrasi senyawa benzoat dalam sampel saus sambal A, B, C dan D yaitu 0,411 ; 0,454 ; 0,336 ; dan 0,344 g/kg menunjukkan kadar senyawa benzoat tidak melebihi ambang batas menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 dalam saus sambal yaitu 1g/kg. Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa saus sambal A, B, C dan D pada rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado tidak membahayakan kesehatan masyarakat dan aman untuk dikonsumsi. KESIMPULAN sambal di rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado mengandung senyawa benzoat. benzoat pada saus sambal di rumah makan ayam goreng cepat saji di Manado adalah A 0,411 g/kg ; B 0,454 g/kg ; C 0,336 g/kg ; D 0,344 g/kg. Kadar tersebut tidak melebihi ambang batas penggunaan senyawa benzoat yang telah ditentukan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2012. Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan. Menteri Kesehatan RI, Jakarta. 2013. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengawet. Badan Pengawas Obat dan Makanan, Jakarta. Cahyadi, Wisnu. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Bumi Aksara, Jakarta. 2009. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Edisi Kedua. Cetakan Kedua. Bumi Aksara, Jakarta. Harmita, 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya. Departemen Farmasi FMIPA-UI, Jakarta. Helrich, K. 1990. Official Methods Of Analysis, 15 ed. Association Of Official Analytical Chemists Inc. Boulevard-Arlington-Virginia, USA. Nurcahyani. 2005. Analisis Kadar Natrium Benzoat dan Jenis Zat Aditif Pewarna Pada Saus Tidak Bermerk di Pasar Dinoyo Malang. [Skripsi]. FMIPA Universitas Muhammadiyah Malang, Malang. Nurhayati, Siadi, K., dan Harjono, 2012, Pengaruh Konsentrasi Natrium Benzoat Dan Lama Penyimpanan Pada Kadar Fenolat Total Pasta Tomat, Indonesian Journal Of Chemical Science. 1 2 159-162. PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 5 No. 3 AGUSTUS 2016 ISSN 2302 - 2493 56 Rorong, 1996. Analisis Asam Benzoat dan Sorbat Sebagai Bahan Tambahan Pangan Secara Spektrofotometri. [Thesis]. Program Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta. 2013. Analisis Asam Benzoat Dengan Perbedaan Preparasi Pada Kulit dan Daun Kayu Manis. Jurnal Kimia. 6 2. 83. Sevita, V., Suhanda, H., dan Zackyah 2013. Pengembangan Metode Penentuan Kadar Natrium Benzoat Secara Spektrofotometri UV dalam Jamur Kancing Kemasan Plastik. Jurnal Sains dan Teknologi Kimia. 4 2. Shargel, L. 1985. Biofarmasetika dan farmakokinetika Terapan. Penerjemah Fasich. Edisi kedua. Penerbit Universitas Erlangga, Surabaya. Standar Nasional Indonesia SNI. 1992. SNI 01-2976-1992 Untuk Saus Cabe. Badan Standarisasi Nasional, Jakarta. Sumarauw, W., Fatimawali., dan Yudistira, A., 2013. Identifikasi dan Penetapan Kadar Asam Benzoat Pada Kecap Asin yang beredar di Kota Manado. Jurnal Ilmiah Farmasi. 21 12-17 Tranggono., Sudarmadji., dan Rahayu, Bahan Tambahan Pangan. Cet. l, PAU Pangan dan Gizi UGM, Yogyakarta. Triastuti, E., Fatimawali., dan Runtuwene , 2013, Analisis Boraks Pada Tahu yang Diproduksi Di Kota Manado. Jurnal Ilmiah Farmasi. 2 1. Nurul RahmaniaArmini HadriyatiMuklis SanuddinAbstrakSaos merupakan salah satu produk olahan makanan yang digunakan sebagai bahan penyedap makanan. Saos terbagi menjadi dua macam yaitu saos sambal dan saos tomat. Natrium benzoat merupakan pengawet dalam makanan yang jika dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan karsinogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan pengawet dan berapa jumlah kadar pengawet natrium benzoat dalam saos yang diproduksi di Kota Jambi. Pengujian sampel yang dilakukan yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif dengan Spektrofotometeri UV-Vis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar pengawet pada kode A saos sambal dan kode B saos tomat yang dijual pada pasar angso duo, keluarga, simpang pulai dan talang banjar melebihi batas yang telah ditentukan oleh BPOM RI No 36 Tahun 2013 yaitu 1g/kg berat kunci Saos Sambal, Saos Tomat, Natrium Benzoat, Spektrofotometri UV-VisDara Afifah AzmiElmatris ElmatrisFachzi FitriBahan pengawet yang sering digunakan pada produk pangan adalah natrium benzoat, salah satu contohnya adalah pada saus cabai. Jumlah natrium benzoat pada pangan harus diperhatikan karena berdasarkan Peraturan Kepala BPOM No. 36 Tahun 2013, batas maksimal penggunaan natrium benzoat pada pangan adalah 1 g/kg. Tujuan Mengidentifikasi natrium benzoat pada saus cabai yang dijual di beberapa pasar di Kota Padang. Metode Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Sampel diambil dengan teknik total sampling, ditemukan sebanyak 10 sampel sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Identifikasi kualitatif kandungan natrium benzoat dilakukan dengan menggunakan reaksi FeCl3 dan penetapan kadar natrium benzoat pada sampel dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Visible. Hasil Semua sampel saus cabai yang dijual di beberapa pasar di Kota Padang mengandung natrium benzoat kadar rata-rata 0,150 g/kg. Kadar natrium benzoat pada semua sampel 100% saus cabai diperbolehkan oleh BPOM ≤ 1 g/kg. Simpulan Semua sampel saus cabai yang diteliti mengandung natrium benzoat dengan kadar yang tidak melebihi batas maksimal yang telah Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan PanganAnonimAnonim. 2012. Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengawet. Badan Pengawas Obat dan MakananR I Menteri KesehatanMenteri Kesehatan RI, Jakarta. 2013. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pengawet. Badan Pengawas Obat dan Makanan, dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan PanganWisnu CahyadiCahyadi, Wisnu. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Bumi Aksara, Jakarta. 2009. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Edisi Kedua. Cetakan Kedua. Bumi Aksara, Kadar Natrium Benzoat dan Jenis Zat Aditif Pewarna Pada Saus Tidak Bermerk di Pasar Dinoyo MalangNurcahyaniNurcahyani. 2005. Analisis Kadar Natrium Benzoat dan Jenis Zat Aditif Pewarna Pada Saus Tidak Bermerk di Pasar Dinoyo Malang. [Skripsi]. FMIPA Universitas Muhammadiyah Malang, Konsentrasi Natrium Benzoat Dan Lama Penyimpanan Pada Kadar Fenolat Total Pasta TomatSiadi NurhayatiK DanNurhayati, Siadi, K., dan Harjono, 2012, Pengaruh Konsentrasi Natrium Benzoat Dan Lama Penyimpanan Pada Kadar Fenolat Total Pasta Tomat, Indonesian Journal Of Chemical Science. 1 2 Asam Benzoat dan Sorbat Sebagai Bahan Tambahan Pangan Secara SpektrofotometriJ A RorongRorong, 1996. Analisis Asam Benzoat dan Sorbat Sebagai Bahan Tambahan Pangan Secara Spektrofotometri. [Thesis].Pengembangan Metode Penentuan Kadar Natrium Benzoat Secara Spektrofotometri UV dalam Jamur Kancing Kemasan PlastikV SevitaH SuhandaZackyah DanSevita, V., Suhanda, H., dan Zackyah 2013. Pengembangan Metode Penentuan Kadar Natrium Benzoat Secara Spektrofotometri UV dalam Jamur Kancing Kemasan Plastik. Jurnal Sains dan Teknologi Kimia. 4 2.Biofarmasetika dan farmakokinetika TerapanL ShargelShargel, L. 1985. Biofarmasetika dan farmakokinetika Terapan.
cara menggunakan natrium benzoat pada sambal