Namun bukan puasa yang hanya sekedar menahan lapar dan dahaga saja. Saum mengajarkan mukmin untuk menyeimbangkan ibadah lahir dan batin. Tidak sekedar menahan lapar dan dahaga, orang berpuasa juga harus mensaumkan anggota tubuh yang lainnya. Lisannya harus dijaga dari melakukan gibah dan fitnah. Matanya harus dijaga dari melihat keburukan.
BacaJuga: Sore-Sore Berkah: Tips Mendapat Pahala Salat Ganda di Bulan Ramadan. 1. Jaga lisan dan jari dari perkataan dusta. Nabi Muhammad SAW bersabda lagi, yang artinya, "Siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur atau dusta, malah mengamalkannya, maka Allah SWT tidak butuh kepada lapar dan haus yang dia tahan."
Akhirnya destinasi ibadah puasa pada bulan Ramadan ini ialah menuju ke arah menjadi hamba-Nya yang lebih bertakwa, tidak sekadar berlapar dan dahaga. Sebuah hadis riwayat Ibnu Majah, sabda Nabi SAW yang bermaksud: "Boleh jadi orang yang berpuasa itu tidak mendapat apa-apa daripada puasanya melainkan lapar dan boleh jadi orang yang berqiam
Berpuasabukan hanya tidak makan dan minum, melainkan keimanan yang harus dipupuk dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. " Dalam Ramadan kita menahan hawa nafsu bukan cuma menahan lapar haus. Tapi tingkatkan tadarus, tarawihnya dengan sodakahnya," kata ustaz Erick Yusuf di Dream Camp Virtual 2021, yang didukung Emeron Hijab Shampoo,
7Hal Ini Batalkan Pahala Puasa. SHAUM bukan sekadar menahan dari lapar dan dahaga atau dari pembatal yang lain, seperti sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam : "Bukanlah puasa itu sekedar menahan dari makan dan minum," [Shahih, HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim]. Yakni lebih dari itu, ada hal-hal lain yang ia harus menahan
hdT3EEo. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Puasa di bulan ramadhan merupakan salah satu rukun islam yang wajib bagi umat muslim. Perintah itu termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat itu, setiap muslim yang sudah baligh dan berakal wajib untuk melaksanakan ibadah puasa. Secara harfiah, puasa adalah menahan rasa lapar dan haus dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Tapi, lebih dari itu, puasa adalah ajang bagi kita untuk mengendalikan diri. Untuk itu, marilah kita berusaha agar puasa kali ini tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus semata. Lebih dari itu, puasa adalah sarana bagi kita untuk menahan hawa nafsu. Manusia berbeda dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Manusia itu sempurna karena memiliki dua komponen dari makhluk hidup, yaitu akal dan hawa nafsu. Manusia, malaikat, dan hewan tidak lepas dari dua hal di atas. Malaikat diberi akal tapi tidak diberi hawa nafsu. Oleh sebab itu, malaikat merupakan makhluk Allah yang mulia karena akalnya yang memimpin. Sementara hewan hanya diberi hawa nafsu tanpa akal. Itu sebabnya siklus hewan tidak lebih dari sekadar makan, minum, dan urusan seks. Manusia memiliki keduanya yaitu hawa nafsu dan akal. Untuk itu manusia disebut sebagai makhluk sempurna. Manusia bisa lebih mulia dari hewan karena manusia tidak bisa lebih mulia dari malaikat karena memiliki hawa nafsu. Untuk itu, manusia senantiasa melakukan kesalahan karena memiliki hawa nafsu. Puasa adalah salah satu cara untuk mengendalikan hawa nafsu. Menurut Imam Ghazali, sumber utama kemasiatan manusia adalah hawa nafsu yang ada di dalam diri bahan bakar hawa nafsu adalah makanan. Dengan mengurangi makan dan minum, maka bisa mengendalikan hawa nafsu. Dan puasa adalah jawaban dari itu semua. 1 2 3 Video Pilihan
Seorang pria Palestina membersihkan jendela masjid al-Khaldi sebelum berbuka puasa selama bulan suci Ramadhan di Kota Gaza, 30/5/2019. Foto MOHAMMED ABED / AFPAmalan puasa di bulan Ramadhan bagi umat Islam tidak hanya soal menahan lapar dan haus. Tetapi juga perihal spiritual untuk menjadi individu yang lebih baik. Sebab, dalam amalan ini, hanya manusia itu sendiri yang bisa mengatur hawa nafsunya saat menjalankan puasa. Menurut Moh. Isom Yusqi, ada tiga hikmah puasa yang bisa dipetik selama menjalaninya. "Pertama adalah hikmah jasmaniah. Kedua, ijtimaiyyah. Dan ketiga ruhiyah," ujar Isom dalam laman NU online. Pertama, puasa bisa menyehatkan sebagaimana sabda Nabi Muhammad yang menyebutkan berpuasalah niscaya akan menyehatkan. "Ibarat mobil, perut kita juga butuh rehat sejenak setelah 11 bulan penuh bermetabolisme delapan jam sehari. Dengan berpuasa juga bisa membuat suara jernih dan nyaring khususnya bagi para penyanyi," ujarnya. Kedua, selama berpuasa, umat Islam bisa menjalin silaturahmi dengan orang lain karena ada rangkaian ibadah seperti salat tarawih. Meski begitu, di masa pandemi, untuk mejalankan ibadah berjemaah harus mengikuti aturan protokol kesehatan. "Bisa salat berjemaah di masjid/mushola akan menjalin komunikasi dan interaksi aktif antar jemaah," tambahnya. Ketiga, Ramadhan mengajarkan soal keihklasan karena umat Islam diminta bersabar hingga menjelang hari raya. "Ikhlas itu gampang diomongkan dan diteorikan namun sulit diamalkan. Misalnya ikhlas menjalankan perintah Allah," pungkasnya.
Puasa Tidak Sekedar Menahan Haus dan Lapar, Ini Manfaat dan Tujuannya Ilustrasi puasa. foto healthlineMengenali tujuan dan hikmah ibadah yang dikerjakan penting untuk memotivasi diri agar bersungguh-sungguh dalam ibadah kepada Allah. Meskipun tidak semua ibadah disebutkan hikmah dan manfaatnya secara langsung dalam al-Qur’an dan hadis. Tapi paling tidak kita bisa mengetahuinya dari hasil pemikiran dan pengalaman para ulama. Ibadah puasa misalnya, ada banyak ulama yang menuliskan rahasia dan manfaatnya, di antaranya Izzuddin bin Abdul Salam. Beliau menulis manfaat puasa dalam kitab Maqashid al-Shaum. Ada delapan manfaat puasa yang beliau sebutkan dalam kitab itu, beliau mengatakan“Puasa memiliki beberapa faidah meningkatkan kualitas iman, menghapus kesalahan, mengendalikan syahwat, memperbanyak sedekah, menyempurnakan ketaatan, meningkatkan rasa syukur, dan mencegah diri dari perbuatan maksiat”.Bulan Ramadhan merupakan wadah untuk memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan. Pada bulan tersebut dibuka pintu ampunan dan kebaikan seluas-luasnya. Dalam hadis, Rasulullah mengatakan, “Bila bulan Ramadhan telah datang, pintu surga dibuka, pintu negara ditutup, dan setan dibelenggu” HR Bukhari.Selain ajang peningkatan iman dan takwa, puasa juga dapat menghapus dosa manusia. Rasulullah SAW berkata, “Siapa yang puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka dosanya diampuni” HR Bukhari. Puasa juga dapat difungsikan sebagai latihan mengendalikan syahwat, sebab syahwat sangat mudah dikendalikan dalam kondisi lapar. Pada saat lapar, pikiran manusia hanya tertuju pada makan dan minum. Dalam situasi seperti ini, hasrat untuk melakukan aktifitas lain atau maksiat dapat kondisi lapar juga, manusia biasanya ingat dan sadar begitu berharganya nikmat Tuhan, walaupun sekilas terlihat sedikit. Melalui ibadah puasa, manusia bisa merasakan kelaparan dan rasa haus yang dirasakan oleh orang-orang miskin. Sehingga dengan perasaan tersebut mereka terdorong untuk memperbanyak kita puasa tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar, tetapi dapat menjalankannya dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan hasil yang baik dan diberi pahala oleh Allah SWT.
Jakarta Hakikat puasa sering dikaitkan dengan menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga tenggelamnya. Namun jauh dari itu, hakikat puasa memiliki makna luas bagi umat Muslim yang menjalaninya. Puasa tak hanya dapat dilakukan saat bulan Ramadan, melainkan di bulan lain yang disunahkan. Hakikat puasa sudah sepatutnya dipahami bagi umat muslim yang sudah memenuhi syarat berpuasa. Niat dan Doa Buka Puasa Ramadan, Dilengkapi Hadits yang Menjelaskan Pahala Puasa Ramadan yang Perlu Diketahui untuk Dapatkan Kemuliaannya Kenapa Ada Istilah Ngabuburit Saat Bulan Puasa? Dengan memahami hakikat puasa, seseorang akan dengan ikhlas dan mengetahui tujuannya dalam berpuasa. Selain itu dengan mengetahui hakikat berpuasa, seseorang akan senantiasa menaati rukun dan sunah puasa sehingga puasanya dapat diterima di mata Allah SWT. Jika kamu ingin memahami lebih hakikat puasa, simak ulasannya seperti rangkum dari berbagai sumber, Selasa 7/5/2019.Hakikat Puasa Sesuai AlquranIlustrasi Al-qur'an sumber PixabayHakikat puasa tertuang dalam perintah berpuasa di surat Al Baqarah ayat 183 yang berbunyi يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ Artinya Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Surat Al Baqarah ayat 183 ini mengandung banyak makna dan pelajaran mengenai pelaksanaan puasa Ramadan. Hakikat puasa pada ayat ini menjelaskan bahwa tiap orang-orang yang beriman diwajibkan untuk berpuasa semata-mata hanya untuk bertakwa pada Puasa Tak Hanya Sebatas Menahan NafsuIlustrasi buka puasa dengan kurma sumber iStockDilansir dari NU Online, Imam Ghazali mengemukakan pendapatnya mengenai hakikat puasa. Menurutnya menjaga nafsu dan syahwat memang sudah cukup bagi ulama fiqh untuk memenuhi syarat sah puasa. Namun ulama ahli hikmah memaknai sahnya puasa lebih dari itu. Puasa yang sah adalah puasa yang diterima. Puasa yang diterima adalah puasa yang maksudnya tercapai. Maksud dari pencapaian puasa adalah dengan berakhlak terbaik, akhlak malaikat, akhlak para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW. Sejalan dengan makna ini ada sebuah hadits dimana Rasulullah SAW bersabda “Lima hal ini bisa membuat puasa seseorang tidak sah berbohong, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat.” Dalam hadis ini berkaitan dengan hakikat puasa untuk membentuk akhlak mulia. Jika seseorang telah melakukan puasa dengan sah, maka ketika ia menghadapi orang lain yang mengajaknya bercekcok atau sekedar menghinanya, ia hanya akan mengatakan pada dirinya “aku sedang berpuasa”. Selanjutnya, ia akan menunjukkan akhlak mulia pada orang PuasaIlustrasi Puasa Ramadan iStockphotoImam Al Ghazali juga mengingatkan tentang hadis-hadis yang menunjukkan betapa Allah memperlakukan puasa secara spesial. Dalam beberapa versi hadis dikatakan bahwa puasa adalah tameng, dan puasa adalah milik Allah sendiri, serta Allah sendiri lah yang nanti akan secara langsung membalasnya. Dijelaskan pula oleh Imam Al Ghazali bahwa Allah telah menyediakan satu tempat khusus di surga, yang pintunya bertuliskan Al-Rayyan kesegaran, kedamaian dan hanya bisa dimasuki oleh mereka yang ahli berpuasa. Setelah semua ahli berpuasa telah masuk, pintu itu akan tertutup, dikunci, dan tidak membiarkan selain orang yang ahli berpuasa Puasa RamadanYuk, intip 5 menu buka puasa yang mampu mengembalikan kebugaran tubuh ini!Dalam sebuah hadis, Rasulullah mengungkapkan “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151 Makna dari hadis di atas adalah Rasulullah mengatakan bahwa setiap amalan kebaikan manusia akan dilipat gandakan pahalanya 10 kali lipat bahkan hingga 700 kali lipat. Namun, hal ini berbeda dengan amalan puasa. Pahala dalam puasa tidak dilipat gandakan dengan cara tersebut. Melainkan, pahala pada orang yang berpuasa akan dilipatgandakan menjadi tak terhingga oleh Allah. Hal ini karena, dalam berpuasa manusia berusaha untuk meninggalkan segalah syahwat karena Allah semata. Allah juga begitu memuliakan orang yang berpuasa sehingga diibaratkan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari bau minyak kasturi. Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah di Lathaif Al-Ma’arif mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.” Pahala puasa Ramadan akan lebih berlipat karena bulan ramadhan adalah bulan yang paling mulia. Selain itu Puasa Ramadan juga merupakan puasa yang diwajibkan oleh Allah. Maka dari itu, siapa saja yang menjalankan puasa Ramadan akan mendapatkan pahala yang berlimpah.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Memasuki bulan Ramadan, adalah sesuatu yang bermakna dan berharga bagi seluruh umat Islam. Baik yang berada di utara ataupun di selatan, sebelah timur mahupun di sebelah barat, seluruh umat Islam pasti akan melahirkan rasa gembira, syukur dan seronok dengan kedatangan bulan yang penuh kemuliaan ini. Satu sudut yang lain, barangkali ada juga sebahagian besar sahabat handai, rakan taulan ataupun jiran tetangga yang bukan beragama Islam pasti tertanya-tanya dan kehairanan melihat keghairahan orang Islam menyambut puasa walhal ibadah puasa, dilarang sama sekali daripada perbuatan makan dan minum di siang hari. Mungkin juga timbul persoalan apakah Tuhan itu kejam sehingga perlu menyekat orang Islam daripada makan dan minum. Terlebih dahulu kita harus ketahui bahawa ibadah puasa bukanlah perkara baharu dalam kehidupan. Sama ada orang itu Islam ataupun tidak, ia bukanlah ibadah baru dalam kehidupan beragama. Sebelum ini, mereka yang mendahului kita juga pernah berpuasa menahan lapar dan dahaga. Bahkan dalam beberapa ajaran agama lain seperti Hindu, Buddha, Kristian, terkandung dalamnya perintah berpuasa. Hal ini seperti yang disebut oleh Allah SWT dalam Surah al-Baqarah ayat 183 yang bermaksud “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas orang-orang yang terdahulu daripada kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” Berdasarkan ayat ini, jelas menceritakan kepada kita bahawa ibadah puasa bukanlah suatu yang baharu bahkan telah menjadi amalan dan ibadah orang dahulu lagi. Maka, tidak hairanlah jika selain Islam, terdapat juga agama-agama lain yang mensyariatkan puasa mengikut aturan agama masing-masing. Apabila ditanya, apakah yang membuatkan orang Islam kuat dan mampu menahan lapar dan dahaga di siang hari, sedangkan makan dan minum itu satu keperluan untuk hidup? Jawapan pertamanya adalah kerana keimanan dan ketakwaan yang menjadikan orang Islam kuat dan mampu menahan lapar dan dahaga. Bagi orang Islam, ibadah puasa bukanlah kerana semata-mata untuk menahan diri daripada makan dan minum di siang hari, sebaliknya ia lambang ketaatan orang Islam mematuhi arahan Tuhan yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Untuk itu, apa sahaja titah perintah Allah Azzawajalla, orang Islam taat dan patuh akannya kerana keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan yang Maha Pencipta. Sekiranya berpuasa hanya sekadar menahan makan dan minum, semua orang boleh melakukannya, tetapi bezanya, keimanan dan ketakwaan seseorang terhadap Allah SWT. Maka apa sahaja tawaran dan ganjaran pahala yang telah dijanjikan oleh Allah pada bulan Ramadan, orang Islam akan menuruti jalan tersebut dengan berpuasa bersungguh-sungguh dan penuh beriman. Sepertimana yang disebutkan oleh baginda Nabi SAW dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, sabda Nabi SAW yang bermaksud “Sesiapa yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala ihtisaba, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Menurut Imam al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani, maksud keimanan di situ ialah keyakinan dirinya akan soal syariat kewajiban berpuasa padanya dan ihtisaba’ bermaksud meminta pahala daripada Allah Azzawajalla. Sementara itu, Imam Khattabi pula berpandangan ihtisab’ itu adalah azimah, iaitu dia berpuasa dengan berharap pahalanya dengan memperhatikan kebaikan bagi dirinya tanpa memberatkan pada puasanya dan tidak pula memanjangkan hari-harinya. Pada bulan Ramadan, tidaklah sekadar untuk orang Islam menahan lapar dan dahaga di siang hari semata-mata, sebaliknya Ramadan dimuliakan oleh Allah SWT kerana pada bulan inilah diturunkan al-Quran yang berisi panduan kehidupan untuk seluruh makhluk yang bergelar insan. Hal ini seperti firman-Nya dalam Surah al-Baqarah ayat 185 yang bermaksud “Bulan Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan menjelaskan perbezaan antara yang benar dan yang salah…” Ramadan juga adalah bulan untuk melatih manusia menjadi hamba yang lebih bertakwa kepada-Nya dengan memperbanyakkan amalan soleh menurut panduan wahyu al-Quran dan Sunnah serta mengikhlaskan diri kerana Allah. Barangkali di luar bulan Ramadan, sering kali kita bercakap dusta, berbicara hal-hal yang tidak elok, maka Ramadan menjadi pusat melatih diri manusia meninggalkan perkara yang sia-sia. Sabda Nabi SAW dalam sebuah hadis riwayat Bukhari yang bermaksud “Sesiapa yang tidak meninggalkan perkataan keji dusta serta mengamalkannya, maka Allah tidak berhajat orang itu meninggalkan makan dan minumnya puasa.” Dalam hadis yang lain, daripada Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda yang bermaksud “Puasa bukanlah hanya menahan diri daripada makan dan minum sahaja, akan tetapi puasa adalah dengan menahan diri daripada perkataan yang melalaikan dan lucah.” Al-Targhib wa al-Tarhib Demikianlah beberapa tujuan sebenar pensyariatan ibadah puasa pada bulan Ramadan yang mungkin dianggap sekadar menahan makan dan minum sahaja. Sebaliknya lebih besar dan lebih utama daripada itu ialah nilai keimanan dan ketakwaan, kepatuhan dan ketaatan diri sebagai hamba-Nya yang telah menciptakan kita. Akhirnya, destinasi ibadah puasa pada bulan Ramadan ini ialah menuju ke arah menjadi hamba-Nya yang lebih bertakwa, tidak sekadar berlapar dan dahaga. Sebuah hadis riwayat Ibnu Majah, sabda Nabi SAW yang bermaksud “Boleh jadi orang yang berpuasa itu tidak mendapat apa-apa daripada puasanya melainkan lapar dan boleh jadi orang yang berqiam itu tidak dapat apa-apa daripada qiamnya melainkan hanya berjaga malam.” Oleh itu, bulan Ramadan bukan semata-mata bulan umat Islam menahan lapar dan dahaga, bahkan sebaliknya menjadi medan bertempur melatih diri menjadi hamba Allah yang lebih bertakwa kepada-Nya. Semoga Allah mengampuni kita semua. Muhammad Faidhi Azis Pegawai Masjid dan Guru Takmir JAIPs
puasa bukan sekedar menahan lapar